Perdana Menteri India Narendra Modi terus melakukan perjalanan internasional untuk mengamankan berbagai kesepakatan baru di tengah perubahan sikap Amerika Serikat. Dalam setahun terakhir, ia telah menandatangani sejumlah perjanjian yang mencakup bidang teknologi dengan negara-negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Langkah ini diambil karena Washington dianggap semakin tidak dapat diandalkan sebagai mitra utama. India sebelumnya banyak bergantung pada kerja sama teknologi dengan Amerika Serikat, terutama di sektor semikonduktor dan perangkat lunak. Kini, pemerintah India mencari diversifikasi mitra untuk menjaga kelangsungan industri teknologi domestik.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan infrastruktur digital dan manufaktur elektronik. Kesepakatan dengan negara-negara Eropa dan Asia Timur memungkinkan transfer teknologi yang lebih luas, termasuk dalam produksi komponen elektronik dan jaringan 5G. Hal ini membantu India mengurangi risiko gangguan rantai pasok yang mungkin muncul dari ketegangan geopolitik.
Dampaknya terlihat pada pertumbuhan ekspor teknologi India yang terus naik meskipun pasar AS mengalami fluktuasi. Perusahaan-perusahaan India kini lebih mudah menjalin kolaborasi dengan mitra baru untuk riset dan pengembangan. Selain itu, langkah ini juga memperkuat posisi India sebagai pusat manufaktur alternatif di sektor teknologi.
Latar belakang kebijakan ini bermula dari kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan AS yang berubah-ubah. India memilih untuk membangun jaringan kerja sama yang lebih luas agar tidak terlalu bergantung pada satu negara. Pendekatan ini juga mencakup investasi di bidang kecerdasan buatan dan komputasi awan dengan negara-negara yang memiliki keahlian komplementer.
Secara keseluruhan, strategi Modi menunjukkan upaya sistematis untuk melindungi kepentingan teknologi nasional. Dengan memperluas mitra global, India berharap dapat menjaga momentum pertumbuhan industri teknologi domestiknya dalam jangka panjang.
